Lulusan Ilmu Komunikasi, Mau Dibawa ke Mana?

Lulusan Ilmu Komunikasi, Mau Dibawa ke Mana?

mobricks.com – Bagaimana melihat kondisi umpama jamur di musim hujan, ketika nyaris seluruh perguruan tinggi di Indonesia mutakhir menghadirkan fakultas/program studi/jurusan ilmu komunikasi? Apakah ini surplus, ataukah defisit, dengan kebutuhan riil di lapangan?

Jika memang defisit, kenapa faktanya para ahli komunikasi publik kampiun, sebut di televisi nasional tak selalu jurusan ilmu komunikasi –sebut saja Tina Talisa yang berlatar pendidikan dokter gigi, atau Pemred Kompas TV Rosiana Silalahi yang alumni Sastra Jepang.

Sebelum menjawab prolog pertanyaan tersebut, ada dua baseline yang harus difahami bersama. Pertama, ilmu komunikasi pada dasarnya adalah derivatif dari fakultas ilmu sosial politik di berbagai perguruan tinggi negeri terkemuka di negeri ini.

Secara historis, fakultas ilmu sosial dan ilmu politik –dengan mother of skills-nya ilmu hukum– adalah bidang ilmu yang sudah eksis sejak zaman Belanda. Bahkan, banyak perguruan tinggi di Indonesia yang dibuka dengan seputaran ilmu sosial tersebut.

Karenanya, sebagai sebuah ilmu turunan, ilmu komunikasi menjadi sebuah cabang ilmu relatif baru, dalam proses in making, serta masih butuh dayungan ilmu atas aras zaman agar menjadi salah satu cabang ilmu yang mapan dan kontributif.

Kedua, ilmu komunikasi adalah bidang ilmu inklusif; Siapapun bisa menjadi pelaku profesinya sekalipun berasal dari jurusan tak berkaitan. Hal yang membedakan misalnya dengan profesi pengacara, jaksa, dan hakim yang hanya bisa oleh lulusan sarjana hukum.

Saking cairnya bidang ini, muncul sebutan IPB sebagai Institut Publisistik/Penyiaran Bogor karena banyaknya lulusan kampus agribisnis tersebut kemudian berprofesi sebagai praktisi komunikasi massa handal dan berpengalaman.

Secara praktis, terutama di bidang profesi media massa, kondisi ini wajar saja jika mengingat rubrikasi di media massa sangat beragam. Dari mulai ekonomi, politik, hukum, sosial budaya, hingga olahraga, yang kemudian menjadi relevan bagi latar ilmu yang majemuk.

Nah, ini tambah menarik, ketika ada proses sertifikasi terkait, semisal uji kompetensi wartawan (UKW), Dewan Pers pun tidak melihat latar pendidikan peserta. Selama diizinkan kantor dan lulus materi UKW terkait kewartawanan, peserta dari disiplin ilmu apapun bisa meraihnya.

Dengan dua titik pijak tersebut, maka dengan sendirinya, lulusan ilmu komunikasi akan masuk bursa kerja maha ketat. Mereka tak bersaing hanya dengan sesama jurusannya, mereka tiada kena sortir pelamar yang ketat dan ekslusif sedari awal.

Maka itu, mengacu pengalaman penulis, tak jarang kemudian lowongan ilmu komunikasi pun “direbut” yang bukan alumni linear. Sering pula terjadi, alumnus ilmu komunikasi yang tak punya keahlian spesifik, dengan mudah dilibas lulusan non komunikasi yang otodidak namun gaul dengan keahlian komunikasinya.

Lalu, jika merujuk kebutuhan riil di lapangan, variabel yang bisa digunakan sebetulnya banyak. Tapi kita lakukan pendekatan paling sederhana dulu, semisal kebutuhan lulusan ilmu komunikasi di Jawa Barat dengan merujuk tingkat keterbacaan koran.

Sebagai media konvensional senior di provinsi ini, dalam catatan penulis, total oplah seluruh koran sekitar 450.000 s.d 500.000 koran/hari. Jika diasumsikan satu koran dibaca tiga orang, maka tirasnya mencapai 1,5 juta-an.

Jumlah penduduk Jawa Barat sendiri akhir tahun 2016 mencapai 47 juta, dengan usia produktif sekitar 65% diantaranya (30 juta), sehingga penetrasi keterbacaan adalah masing-masing mencapai 3,191% dari total penduduk serta 5% dari usia produktif.

Artinya, tingkat utilitas sekaligus peluang pasarnya relatif sangat kecil. Ditambah budaya baru membaca media massa ke arah media baru/new media, maka terjadi posisi begini: Alumni ikom bersaing sangat ketat untuk pasar (konvensional) yang cenderung terbatas!

Skills yang Dibutuhkan

Sekali lagi, jika merujuk variabel media konvensional, peluang tak demikian besar. Namun pantang surut apalagi jatuh mental, karena sesungguhnya bukan kebutuhan lulusan komunikasinya yang sempit, namun arah skills yang harus lebih ditajamkan.

Pada hari ini, ketika new media kian tumbuh eksponensial bergerak melampaui utilitas dan peluang pasar media konvensional, maka dibutuhkan kompetensi unik, spesifik, dan menarik yang harus dimiliki lulusan ilmu komunikasi dalam arungi medan ketat.

Kompetensi tersebut, selain merujuk pada keahlian dasar ilmu komunikasi (penulis menyebutnya kemampuan menulis, public speaking, multimedia, dan event management), juga harus seiring dan sejalan dengan kebutuhan dari new media.

Atau dalam istilah lain yang dipopulerkan Indra Utoyo dalam buku Silicon Valley Mindset (Gramedia Pustaka Utama, 2016), haruslah beriringan dengan peradaban ekonomi konseptual yang menekankan high thinkhigh tech, namun high touch.

Setelah era manufaktur digantikan era informasi, kini adalah saatnya era yang tak selalu bertumpu pada irisan antara padat modal dan padat kerja. Inilah era yang penuh usungan akan nilai-nilai ide, konsep, kreativitas, dan inovasi.

Selamat datang di http://www.pelajaransekolahonline.com/ era ekonomi kreatif (ekraf), wahai lulusan ilmu komunikasi! Sebuah zaman dimana peluang terlihat sempit pada bidang aplikasi ilmu konvensional, namun sangat terbuka lebar dengan aneka peluang ilmu komunikasi penyokong ekonomi kreatif.

Inilah waktu tepat dan akurat jika para alumni komunikasi tak selalu harus bekerja pada profesi yang itu-itu saja: Jurnalis/humas/iklan/manajemen komunikasi.

Namun, di sisi lain, ada ratusan hingga ribuan startup se-Indonesia yang memerlukan sentuhan skills spesifik lulusan komunikasi. Dengan rerata pendiri berlatar teknik informatika, mereka perlu mitra yang faham berkomunikasi ke publik.

Tak hanya itu. Merujuk data Badan Ekonomi Kreatif Kota Bandung Agustus 2016 contohnya, peluang juga terbuka lebar selain usaha rintisan digital tadi, juga pada bidang ekraf dengan serapan terbesar yakni fashion sebesar 52,78%, kerajinan (16,76%), kuliner (16,16%), desain (3,1%), dan seterusnya

Dengan barometer ekraf ini berasal dari Barat, terutama Silicon Valley Amerika Serikat, maka lulusan komunikasi yang ingin kompetitif ini harus pula dilengkapi kemampuan orientasi global dengan diawali kemampuan bahasa Inggris yang baik.

Paling aktual kita bisa lihat merger agensi iklan dan humas terbesar tanah air, Dwi Sapta Group, dengan agensi global asal Inggris, Dentsu Aegis Network pada pekan ini, yang memang ditujukan dalam meluaskan pasar Dwi Sapta ke 145 negara yang sudah dikuasi Dentsu.

Karena itu, sebagai konklusi, ilmu komunikasi malah makin aktual dan diperlukan –sekalipun bidang ilmunya inklusif dan dalam proses in making– terutama untuk ranah implementasi ilmu berbasis new media dan ekonomi kreatif. Maju terus Ilmu Komunikasi Indonesia!

Demikian artikel tentang” Lulusan Ilmu Komunikasi, Mau Dibawa ke Mana?, semoga bermanfaat

 Baca juga artikel pendidikan lainnya :

Dibilang Batal Nikah, Vanessa Angel: Kata Siapa?

mobricks.com – Beberapa waktu lalu sempat tersiar kabar jika Vanessa Angel akan menikah dengan Didi Mahardika. Namun, sampai saat ini keduanya belum dikabarkan menjalani pernikahan. Banyak orang pun menyangka bahwa pernikahan keduanya batal.

vanessa angel

Tak mau memberikan konfirmasi lebih lanjut, Vanessa Angel justru bertanya kembali perihal kabar tersebut. Ia menanyakan sumber yang mengatakan bahwa pernikahan yang telah direncanakan dengan cucu Bung Karno itu gagal.

“Kata siapa?” ucap Vanessa Angel di acara Funtastic 5 Click House, Veranda Hotel, kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (8/3) Biografi Bill Gates

Sembari berjalan cepat, Vanessa mengatakan bahwa dirinya tak ada masalah apapun dengan Didi Mahardika. Ia menegaskan hubungannya baik-baik saja karena tak terjadi masalah yang krusial dalam hubungan cintanya. “Nggak ada masalah apa-apa,” tutur Vanessa Angel.

Tingkah Vanessa Angel memang tak seperti biasa. Jika biasanya ia sangat berkenan ketika diminta wawancara oleh awak media, namun kali ini Vanessa justru kucing-kucingan ketika diminta untuk membeberkan hubungan asmaranya. “Maaf ya saya enggak mau cerita apa-apa,” tukas Vanessa Angel.

Baca Juga :

Wujudkan Pendidikan Merata, Pemerintah Bantu Anak Yatim Piatu

mobricks.com – Total jumlah anak yatim piatu yang terdata hingga sekarang berjumlah 896.781 anak. Pada tahun 2016, anak yatim piatu penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) berjumlah 158.933 anak, dan sisanya sejumlah 736.848 anak belum mendapatkan KIP dipastikan segera memperoleh manfaat dana program ini di tahun 2017.

anak yatim

Pemberian KIP untuk anak yatim piatu merupakan wujud nyata dari arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membangun pendidikan yang merata, berkeadilan dan berkualitas di tahun 2017. Upaya ini diharapkan membawa manfaat yang besar bagi pembangunan pendidikan dan kebudayaan di Indonesia.

“Anak-anak yatim piatu merupakan bagian dari sasaran penerima KIP tahun 2017 yang ditargetkan sebesar 16,4 juta siswa dari keluarga miskin, termasuk peserta didik yatim piatu dari sekolah maupun panti sosial/panti asuhan,” ujar Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani di hadapan Jokowi, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (26/1/2017) Contoh Proposal Usaha

Dia mengungkapkan ada tiga poin yang dibahas dalam pelaksanaan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2017. Dia menyebutkan, pertama peningkatan pemerataan layanan pendidikan meliputi optimalisasi Program Indonesia Pintar (PIP) dan optimalisasi pendidikan serta kebudayaan dari pinggiran. (Baca: Kartini Perindo Berbagi dengan Anak Yatim)

Kedua, kata dia peningkatan mutu, relevansi dan daya saing yang mencakup implementasi kurikulum 2013, penguatan pendidikan karakter, peningkatan daya saing melalui pendidikan kejuruan dan keterampilan, peningkatan kualitas dan tata kelola guru dan tenaga kependidikan serta penguatan sistem penilaian. Ketiga lanjut dia, mengenai penguatan tata kelola pendidikan dan kebudayaan yang mencakup sinergi pusat dan daerah dalam pelaksanaan UU Nomor 23 tahun 2014 serta penguatan kelembagaan, tata kelola satuan pendidikan dan kebudayaan.

“Wujud nyata dari arahan Presiden untuk membangun pendidikan,” ucapnya.

Baca Juga :